Sunday, June 23, 2019

Bagaimana Saya Terjun di Dunia Menyusui (4) : Kelas Pertama Bersama Perempuan dan Pelatih yang Monoton.

Ilustrasi Presentasi
Dari detik pertama saya datang, saya belum menikmati pelatihan ini. Saya selalu merasa bahwa ini bukan dunia saya, bukan komunitas saya, dan saya seperti tendampar dalam dunia yang berbeda bersama orang-orang pintar dari Universitas terbaik di republik ini dan berpendidikan yang bukan bidang saya.

Saya memang tidak punya pengalaman mengikuti pelatihan, bahkan bisa disebut, pelatihan ini adalah pelatihan profesional pertama saya. Saya belajar photoshop secara otodidak, belajar bikin website dimulai dari HTML, CSS, Javascript, lalu mulai advance ke PHP dan seterusnya semua dilakukan secara otodidak melalui video atau tutorial di website.

Seperti yang sering saya tulis sebelumnya, bahwa laktasi adalah bagi-bagi susu, maka mindset saya pelatihan ini adalah pelatihan profesional tehnis cara membagi susu, membuat, mendistribusikan dan mengemas susu formula dengan baik sesuai anjuran pabrik.

Maka harusnya sesi-sesi pelatihannya pun tentang itu. Aneh dong pada akhirnya dalam pelatihan ini dalam sesi pertamanya adalah tentang "Mengapa Menyusui Penting?" menurut saya ini keluar dari jalur yang seharusnya. Tetapi sebagai peserta, tentu akan tetap nurut, tunduk dan patuh pada penyelenggara.

Pemberontakan jiwa itu saya simpan rapat2 dalam hati saja, hehe..

Saya melihat para peserta lain sudah mulai menyiapkan diri, mengeluarkan pulpen dan blocknote. Suara gemuruh kursi yang ditarik, suara buku yang dibuka, diselingi beberapa dehemen batuk kecil terdengar, itu menandakan bahwa "kelas akan segera dimulai," dan semua siap dalam posisi masing-masing.

Seorang perempuan berjilbab maju ke depan membawa buku tebal itu, saya yakin pasti itu sangat berat dan merepotkan, apalagi dia jg sambil memegang pulpen, sungguh fenomena menarik. Belakangan saya tahu beliau seorang dokter spesialis anak dari Makassar.

 "Baik teman-teman, boleh saya panggil 'teman-teman'," sang dokter memulai sesi, bak terhipnotis semua serentak menjawab "boleh" dan beberapa senyuman tersungging dari para peserta, "Sesi pertama ini tentang 'mengapa menyusui penting' silahkan dengarkan saja, buku modulnya silahkan ditutup, dan tidak perlu menulis, karena semua yang akan saya sampaikan ada di buku modul peserta," tegasnya.

Maka kembali suara gemuruh terjadi sesaat, dan sayapun mengikuti apa yang beliau sampaikan.

Ibu dokter pun memulai presentasi, tetapi bagi saya itu lebih tepatnya membaca buku keterangan dari slide yang ditampilkan. dia membaca percis apa yang ada dalam buku, hanya dengan intonasi yang naik turun untuk memudahkan kami para peserta mendengar dengan baik. Sesekali kepalanya mendongak agar tidak terkesan full membaca buku dan terjadi kontak antara pelatih dan peserta.

Tetapi bagi saya tetap saja itu tidak menarik, slide demi slide dipaparkan dengan display grafik yang monoton dan tulisan yang kecil-kecil, plus istilah-istilah yang nyaris semuanya asing di telinga membuat saya mulai mengantuk, mata seperti ditarik ke bawah, tetapi saya coba tahan.

Ingat, ini adalah kelas pertama saya dalam hidup, satu kelas bersama perempuan, setelah SD saya tidak pernah duduk satu kelas dengan mahluk yang namanya perempuan. hahaha.

Jadi tentu saya tidak akan membiarkan diri saya dipermalukan. haha.

Apalagi kala saya melihat peserta lain duduk rapih penuh perhatian ke depan, ada yang kakinya disilang ke depan, ada yang kaki kanannya ditumpangkan ke kaki kiri, ada yang sambil ngemut pulpen, aah macam-macam, lah.

Saya pun tidak mau ketinggalan memasang gestur antusias, menarik ujung bibir dikit agak lebar dan mata yang agak terbuka, bahkan psikolog sekalipun blm tentu mampu membaca isi hati saya, bahahaha.

Tetapi sejujurnya, ini adalah awal yang berat, mungkin bagi sebagian orang mungkin ini biasa, tetapi tidak bagi saya, orang arab itu kalau presentasi menggebu-gebu, nadanya tinggi, diselingi teriakan-teriakan yang kadang saya jg gk paham, haha.. jadi ketika disuguhi presentasi monoton seperti itu, saya agak ngantuk, selain itu pelatihan ini di luar ekspektasi saya.

Bersambunng ...


Monday, March 18, 2019

Susu bukan segalanya

Ini ilustrasi dari makanan dengan 4 bintang
Dari pengamangatan intejen mengatakan bahwa, gencarnya iklan susu ternyata berdampak pada paradigma emak-emak dan orang tua zaman now menganggap susu adalah segalanya, anak gk mau makan di kasih susu, bereess. ada juga pemikiran "agar anak sehat harus dikasih susu," sehari segelas sama dengan makan 1 piring lengkap dengand daging, sayur, buah dan lain-lainnya.. hebat sekali susu ini.. kata iklaaann.. ðŸ˜ŽðŸ˜Ž

Padahal kita semua mengetahui bahwa semua mahluk mamalia termasuk manusia memiliki fase mendapatkan nutrisi cair dari susu, tapi hanya ada satu susu yang tepat untuk mereka, yaitu Air Susu Ibunya masing-masing. sampai pada masa dimana mahluk mamalia harus disapih, setelah itu asupan nutrisinya melalui makan, atau nutrisi padat.

Siklus menyusui pada manusia yaitu 0-6 bulan ASI Ekslusif alias ASI thok, hanya ASI saja, the one and only. Baru setelah 6 bulan bayi mulai diberi makanan padat dengan tetapi tetap disusui sampai usia bayi 2 tahun. setelah itu disapih. Baru fase berikutnya adalah fase dimana manusia membutuhkan makan, makanan bervariasi dengan 4 bintang, bahasa kerennya gizi seimbang. katanya ahli gizi..(lihat pd gambar tentang makanan dengan 4 bintang)

Fase seperti ini sebenarnya tidak hanya terjadi pada manusia, tetapi semua mahluk mamalia yang hidup secara alami, tengok lah sapi, kerbau, dan lain-lain, setelah fase menyusui selesai maka dia makan, tidak pernah kita melihat sapi dewasa menyusu ke ibunya, bahkan kalau pun dia sapi berjenis kelamin jantan, #ehhh..


Tetapi kita sudah kadung dicekoki doktrin 4 sehat 5 sempurna selama berabad-abad, eh bertahun-tahun, maksudnya, hehe.. sehingga merubah paradigma "susu penting bagi manusia, dari lahir sehingga lansia" memang agak susah. 

Bertahun-tahun sudah, propaganda 4 sehat 5 sempurna dihapuskan, tetapi sampai detik ini masih banyak yang tidak tahu, entah kenapa.. Padahal jargon gizi yang sekarang ada adalah makan bener, yaitu makan dengan gizi seimbang. Ketika anak adam mulai menginjak tepat 6 bulan, disarankan makan makanan dengan 4 bintang, yaitu terdiri dari makanan pokok, protein hewani, kacang-kacangan, juga buah dan sayur. keempatnya itu ada dalam tiap porsi makanan.

Ada beberapa hal kenapa susu formula tidak perlu lagi untuk kita konsumsi; pertama, dalam susu ada satu gula husus yang ada hanya di susu, gula itu bernama LAKTOSA, gula susu ini hanya dapat dicerna jika ada satu enzim bernama LAKTOSE, enzim percerna ini kadang tidak diproduksi dalam tubuh manusia kecuali pada beberapa kelompok atau tempat yang sudah mutasi genetis.

Jika tidak ada enzim percernannya, maka laktosa itu tidak bisa dicerna tubuh, sehingga membahayakan kesehatan anak karena cukup tingginya prevalensi intoleransi laktosa akibat konsumsi susu di kalangan anak usia sekolah di Indonesia (copas dari GKIA)

Lalu apa bedanya dengan ASI? ASI juga kan susu, berarti gulanya juga laktosa?

Pertanyaan bagus, (entah siapa yg nanya, haha), hebatnya ASI, selain membawa zat-zat yang dibutuhkan manusia, ASI membawa serta zat pencernanya, alias enzimnya. Maka Bayi yang disusui tidak intoleransi laktosa susu ibunya, karena ASI membawa serta enzimnya yang membuat bayi dapat mencerna laktosa dengan baik..

Kedua, susu formula juga mengandung alergen yang meningkatkan risiko alergi, dan serta risiko kontaminasi susu yang tidak ditangani dan disimpan secara tepat yang berdampak pada kejadian penyakit yang dihantarkan melalui makanan. (copas dari GKIA).


Jadi setelah disapih manusia gk butuh susu?

Betuul sekali, tidak membutuhkannya.. manusia setelah itu butuh makaan makaan makaan.. selayaknya mahluk mamalia lain..

Trus apa lagi?

Udah gitu aja, mohon dikoreksi kalau salah..

wasugi

Saturday, March 09, 2019

Bagaimana Saya Terjun di Dunia Menyusui (3) : Perkenalan yang Membuat Saya Jantungan

Illustrasi
Sebagian orang mulai sibuk memposisikan dirinya masing-masing di kursi yang ada mejanya itu. Suara berisik kursi ditarik, gelak tawa, peluk cium dan suara obrolan riuh tidak jelas, pertanda ruangan mulai penuh diisi peserta. Saya yang mengambil posisi di belakang, bisa memperhatikan mereka semua dengan tenang, sesekali memberi anggukan dan senyuman kala pandangan mata "bertabrakan" dengan peserta lain.

Di luar ruangan saya masih dapat melihat ada beberapa orang yang masih asik ngobrol. Mereka santai sekali, meski jam sudah menunjukan pukul 07.55 WIB, kalau kata Ocha benar maka harusnya jam 08.00 pelatihan akan dimulai itu artinya tinggal 5 menit lagi.

Tiba-tiba pandangan saya tertuju kepada seorang wanita yang duduk di samping tembok dekat pintu, wanita berhijab itu sedang serius membaca buku tebal, cukup tebal dan besar untuk ukuran buku, kalau dibandingkan dengan buku pelajaran filsafat saya waktu di Kairo sepertinya buku itu jauh lebih tebal. Jarang sekali ada buku ukuran A4. Covernya berwarna biru dari "tampangnya" buku itu tidak dicetak massal tetapi hasil fotokopian biasa, indikatornya terlihat jelas dari ukuran, jenis kertasnya juga seperti bukan book paper yang biasa dipakai percetakan.

Pandangan saya menuju sudut depan, ada dua orang perempuan sedang berbicara, mereka tidak saling berbisik, tetapi tidak cukup keras untuk dapat saya dengar dari belakang. Sesekali mata mereka melirik ke arah peserta, sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu. Beberapa kali mulutnya komat-kamit seperti menghitung, satu, dua, tiga, dan seterusnya, mungkin sedang menghitung jumlah peserta. Saya sendiri tidak tahu berapa jumlah peserta yang akan hadir.

Tiba-tiba datang dari luar seorang perempuan paruh baya tetapi terlihat sangat energik, suara sepatu hak tingginya terdengar nyaring ketika berjalan cepat menuju ruang kelas. Bajunya berwarna merah dibalut rompi warna hitam, dipadu celana panjang yang serasi dengan rompinya. Wah ini sepertinya boss-nya.

"Selamat pagi teman-teman" ibu itu menyapa ramah ketika memasuki kelas, suaranya agak serak dan "ngebas." "Pagi, dokter," jawab beberapa orang yang sepertinya sudah saling mengenal, beberapa diantara mereka berdiri dan memberi pelukan hangat, lalu cium pipi kanan dan kiri alias cipika, cipiki. Sedang saya hanya melongo. Karena pertama, saya tidak terbiasa disapa atau menyapa "selamat pagi" selama saya di pesantren kemudian ke Kairo saya biasa saling menyapa dengan "Assalamu'alaikum," kedua, saya bingung kok ada dokter ikut pelatihan ini atau mengadakan pelatihan seperti ini?

"Hallo, saya Utami Roesli, saya seorang dokter spesialis Anak di RS Sint Carolus. Saya ketua umum Sentra Laktasi Indonesia" dokter itu langsung memulai pembicaraannya.

"Kita akan bersama-sama berlatih konseling laktasi selama 6 hari, karena ini crash program, jadi sampai hari sabtu. sebelum kita mulai, apa ada yang belum hadir?" tanya dokter Utami, saya kembali teringat, Ocha mana Ocha, dan ternyata benar, "Teman kami Ocha belum hadir, dokter," kata seorang perempuan berhijab kuning menjawab pertanyaan dokter Utami.

"Baik sambil menunggu yang lain, karena ini sudah jam delapan lebih kita mulai saja perkenalan, silahkan sebutkan nama lengkap, kenapa orang tua teman-teman memberi nama itu, asal dari mana dan latar belakang pendidikannya apa" papar dr. Utami memberi instruksi.

Mulailah satu persatu setiap peserta berdiri sambil untuk sesi perkenalan, sesuai dengan instruksi dr. Utami Roesli

"Saya Minessa Mahardika, biasa dipanggil Chacha dari Kedokteran Gigi UI. Min artinya kurang, Esa artinya satu, Mahardika artinya kemerdekaan, saya diberi nama Minessa karena saya lahir 16 Agustus, artinya min satu menuju hari kemerdekaan," tawa kecil mulai menyeringai, hehe.

Dilanjut kemudian "Saya Dedi Setiawan, Kedokteran Gigi, UI," "Saya Wigiarti, Kedokteran Gigi UI," "Saya Nurul Narita, biasa dipanggil Inong, Kedokteran Gigi UI," "Saya Nyoman Sylvi, Kedokteran Gigi UI,". " .... saya Dokter Umum," "... Saya perawat dari Makassar," ".. Saya Bidan dari Makassar,". ".. saya Ahli Gizi dari Poltekkes Makassar,"

Mendengar mereka kenalan, lidah saya tiba-tiba menjadi kelu, jantung deg-degan seperti bingung dan jiper aja. Saya berharap janganlah datang giliran memperkenalkan diri. "Berarti yang bener Ipeh, ini" gumamku, ini semua tenaga kesehatan. Memang sebelum saya putuskan ikut pelatihan ini sebenarnya saya sempat SMS Alifah, biasa saya panggil Ipeh, seorang dokter yang juga kenal melalui aplikasi Yahoo Messenger, dia dari Jogja dan lulusan Kedokteran UGM. "Laktasi itu menyusui, memberi ASI," SMS dia singkat menjelaskan tentang Laktasi.

Jangan-jangan selama ini saya salah interpretasi menyusui dengan bagi-bagi susu? tetapi ini baru kenalan kok, saya masih yakin dengan bagi-bagi susu.

"Saya Wawan Sugianto, Saya Filsafat Al-Azhar, Kairo, Bapak saya memberi nama Wawan Sugianto gk tau bu," Giliran saya berkenalan, "Nanti ditanya ya, penting lho" jawab dr. Utami.

Part 2 : Bagaimana Saya Terjun di Dunia Menyusui (2) : Memulai dengan Kebingungan

Wednesday, March 06, 2019

Bagaimana Saya Terjun di Dunia Menyusui (2) : Memulai dengan Kebingungan



Hari itu juga, saya langsung menghubungi sahabat saya di jakarta, Nanda Adi Gazali, namanya. Seorang "donatur" tetap saya waktu di Kairo. Bagi mahasiswa kere dan tidak mendapat kiriman uang orang tua seperti saya, hampir tidak mungkin untuk mampu menyewa atau tinggal di apartemen di kota Rob'ah, Nasr City, Kairo. Tetapi karena sebagian saya dibayarin Nanda, jadi saya bayar ringan sekali waktu itu.

"Ok dari stasiun Senen Lo naik KRL aja, turun di stasiun Kebayoran Lama, ntar gue jemput." Balasan SMS dari Nanda. Alhamdulillah ada tempat untuk menumpang di Jakarta.

Singkat cerita, hari Ahad pagi saya berangkat ke Jakarta naik kereta api, saat itu pemesanan tiket belum sebagus sekarang, masih dijual langsung dan biasanya saya selalu dapat tiket "Tanpa Tempat Duduk." apalagi hari Ahad, bisa dibayangkan kan bagaimana kondisi kereta api saat itu yang ajaib banget.

Sesuai arahan Nanda Setelah sampai Stasiun Pasar Senen di Jakarta, saya langsung menuju Kebayoran Lama, kira-kira pukul 18.00 sampai di rumah Nanda di daerah Cidodol. Kami makan malam dan ngobrol dengan keluarga Nanda, alhamdulillah mereka welcome sekali. Saya merasa sangat tersanjung dan berhutang budi sama Nanda dan keluarganya, semoga Allah memberi balasan pada mereka.

Keesokan harinya, pagi-pagi saya sudah siap, tetapi masih menunggu Nanda dan Bapaknya, karena beliau mau antar saya ke dekat tempat pelatihan, "Biar kamu gak bingung dan gk terlambat" kata Bapak waktu itu. Kebetulan arah Tanah Abang juga searah dengan kantor beliau, saya diantar sampai di perempatan Slipi. Lanjut menggunakan angkot menuju Wisma Guru. Nanda dan Bapak langsung menuju Mampang.

Sesampainya di Wisma Guru, saya kaget, bahkan kuuuaaget, kok hampir semuanya perempuan, hanya ada 1 laki-laki yang saya lihat pertama kali. dia sedang ngobrol dengan beberapa perempuan muda dengan hijab dan dengan pakaian yang rapi-rapi sekali, kelihatan kalau mereka anak-anak kota sepertinya.

Tapi yang jadi pertanyaan, inikan pelatihan untuk jadi relawan, tanggap bencana, bagi-bagi susu, ke pelosok tempat bencana, kenapa yang ikut banyak perempuan? Yang tambah saya makin bingung, mereka semua sudah saling kenal. Sekelompok duduk di depan pintu masuk Wisma Guru, sebagian lain bercengkrama sambil berdiri, ada yang di lobi, tangga, maupun di depan kelas, mereka berkelompok kecil-kecil antara 3-6 orang, ketawa-ketawa, ngobrol asik, dan bersenda gurau.

Hanya saya aneh sendiri, tidak ada satupun orang disana yang saya kenal, bahkan Ocha yang mana juga saya tidak tahu, karena belum pernah ketemu sebelumnya.

"Mba kenal Ocha?" tanya saya pada salah satu kelompok peserta yang asik ngobrol di taman depan Wisma, "iya kenal mas, tapi dia belum datang" jawabnya singkat, sambil melanjutkan ngobrol dengan teman-temannya yang lain, seakan tidak peduli bahwa saya sedang bingung.

Baru kali ini saya merasa berada di "lingkungan yang bukan gue banget," kalau bukan karena akan jadi manajer, saya mungkin sudah pulang lagi.

Saya langsung menuju ke lantai dua tempat pelatihannya nanti, di depan pintu saya disapa oleh bagian pendaftaran "Nama siapa mas,"  "Wawan Sugianto, bu," jawab saya. Ternyata nama saya sudah terdaftar "tanda tangani disini mas, ini alat tulis untuk pelatihan," katanya sambil menyodorkan map plastik warna kuning transparan, saya bergegas masuk ke kelas sambil senyum-senyum menyapa peserta lain yang sudah terlebih dahulu berada di dalam, sambil mengangguk kecil dan senyum semanis saya bisa untuk menyapa yang saya lewati "eeehmm, bu" "eeheemm mba." tetapi mereka hanya membalas dengan senyuman dan anggukan ringan, sambil tetap fokus ngobrol dengan temannya.

Saya langsung cepat cari tempat duduk di belakang, menyendiri dan sendirian aja lagi. Map warna kuning itu saya buka ternyata berisi Jadwal pelatihan, 1 pulpen, 1 pensil, 1 penghapus, 1 serutan dan block note, tidak ada pengantar pelatihan, modul atau apapun. "Katanya pelatihan, kok gk ada bukunya" saya cuma bergumam dalam hati, tidak berani bertanya apa-apa.

Saya baca judul jadwalnya "Pelatihan Konseling Laktasi Modul 40 Jam, WHO/UNICEF" wih sangar, bagi-bagi susu aja melibatkan organisasi PBB, ada WHO dan UNICEF, pasti keren banget. Pikiran saya melayang entah kemana, membayangkan jadi manajer bagi-bagi susu di pedesaan, dengan dasi dan sepatu pantopel yang necis, keren banget pastinya. eh iya Ocha, mana Ocha? tengok kiri kanan mencari dimana orang yang bernama "Ocha" itu berada. tentu saya penasaran banget juga sama Ocha, orangnya yang mana yak?

Part 3 : Bagaimana Saya Terjun di Dunia Menyusui (3) : Perkenalan yang Membuat Saya Jantungan

Bagaimana Saya Terjun di Dunia Menyusui (1) : Berawal dari Ketidaktahuan


Tahun 2006 silam, saya memutuskan pulang ke Indonesia, setelah 5 tahun berkelana di Mesir. Kadang sebagai mahasiswa al-Azhar, kadang sebagai penjual tempe, kadang jaga warnet, kadang tukang numpang makan di rumah Maman KPJ, bantuin ngabisin makan di rumah makan Delli milik bang Rozel, ya yang penting bertahan hidup di negeri Firaun, lah.

Pada akhir Mei 2006 saya sudah berada di Jogja, waktu itu lagi lewat, kebetulan lagi mengurus berkas calon mahasiswa baru dari Gontor. Waktunya tidak lama setelah gempa dahsyat. Sebenarnya saya menawarkan diri untuk menjadi relawan, tp tidak tahu harus mengerjakan apa? melihat posko Gontor, udah penuh oleh alumni. akhirnya saya hanya mampir di kosan Lubis Budianto, seorang legenda X-KDR.

Pagi menjelang siang, waktu itu matahari malu-malu untuk menyapa umat manusia tiba-tiba "nit nit, nit nit," Nokia 7210 saya berbunyi, seorang kawan yang saya kenal melalui aplikasi chating Yahoo Messanger (YM) mengirim saya SMS, sebut saja namanya Ocha, sebuah nama panggilan.

Ocha dahulu saya kenal sebagai mahasiswa Kedokteran Gigi di UI. komunikasi kami hanya lewat YM atau mIRC. Sampai Allah takdirkan saya memiliki HP, barulah bisa melalui SMS.

Dalam SMSnya dia mengajak untuk menjadi Relawan Laktasi di Gempa Jogja dan Klaten. Antara senang akhirnya bisa jadi relawan, dan bingung karena saya tidak tahu artinya laktasi. Bagaimana bisa tahu, saya tidak mengenal istilah medis, baru pulang dari Kairo, belum menikah, dan masih sangat muda lah, waktu itu umur saya masih 25 tahun.

"Laktasi itu menyusui, Bang," Jawab Ocha singkat. Mendengar jawaban itu saya agak kaget, bingung, dan merasa aneh, hati kecil saya berkata "Apa hubungannya bencana gempa dengan menyusui?," Saya husnudzon dan yakin yang dimaksud Ocha adalah "Bagi-bagi Susu Formula untuk bayi."

"Tapi ada pelatihannya dulu bang," lanjut Ocha dalam SMS berikutnya, "katanya sih sekitar 6 hari, trus nanti baru dikirim ke Jogja dan Klaten," jelasnya rinci.

Untuk bagi-bagi susu saja harus ada pelatihan 6 hari, tidak boleh bolos dan di Jakarta. Ini membuat saya berfikir keras tetapi juga senang.  karena hatiku berkata "Pasti nanti saya jadi salah satu manajernya." bagi saya ini akan jadi pengalaman yang keren, dapat kerja langsung jadi manajer, perusahaan Jakarta pula. kece badaii...

"Tapi ini mendadak bang, hari Senin besok kita mulai, pelatihannya di Wisma Guru, Tanah Abang, jam 08.00 harus sudah ada disana, langsung absen dan mulai pelatihan, kira-kira bisa?" Tanya Ocha untuk memastikan kesanggupanku, tanpa ragu ku balas "Yaa... Bisa, Ocha."

Padahal, waktu itu hari Jum'at, artinya saya harus segera beli tiket ke Jakarta, dan cari tumpangan nginap disana, karena hampir pasti saya tidak mampu bayar hotel untuk nginap 6 hari di Ibu Kota.

Part 2 - Bagaimana Saya Terjun di Dunia Menyusui (2) : Memulai dengan Kebingungan

Thursday, December 10, 2015

Allah selalu ku nomor duakan ...


Duduk termenung dipinggir jalan, melihat orang berseliweran seperti tanpa ujung, banyak sekali yang melewati jalan ini. mulai dari mobil, motor sampai sepeda ontel. mereka bak silih berganti menunjukan dan mengajari sebuah nama. Ini nama mobil  tipe ini, merk anu, ini motor anu merk ini dengan sekian CC. ini sepeda ontel beroda dua bermerk itu.

Sedangkan aku duduk tanpa memiliki apapun, berharap jika aku dapat memiliki salah satu diantara ratusan kendaraan itu. karena dorongan itulah aku berusaha untuk memilikinya, Allah kabulkan untuk ku miliki salah satu jenis motor, bagus, 135CC, cukup untuk melaju dengan kecepatan 120 KM/jam jika mata dan keberanian masih sanggup untuk terus menggeber motor ini.

Tapi di hari dimana aku memiliki motor maka pandangan mataku tidak lagi fokus pada motor, tapi pada mobil. Mobil-mobil itu seakan melambai dan menunjukan kenyamanannya, apalagi musim hujan mulai perlahan datang, nyaman dengan AC yang membuat pengemudinya tidak kepanasan jika panas, dan tetap nyaman meski hujan lebat melanda. sungguh satu kenikmatan yang ingin ku raih.

Yaa begitulah dunia, ketika tidak memilikinya, maka akan aku kejar agar memilikinya, setelah itu aku akan fokus pada jenis lain agar kenyamanan, kenikmatan dan kesenangan yang sbenarnya sudah terpenuhi menjadi lebih meningkat. lalu aku akan berusaha dengan berbagai cara untuk memilikinya, lalu ingin lagi, ingin lagi yang lain, lagi, lagi, lagi dan lagi.. lebih banyak, lebih mewah, lebih keren, lebih lebih lebih dan lebih lagi..

Berapapun ongkosnya, sebesar apapun tenaga yang diperlukan, semua akan ku berikan dengan sukarela asalkan kesenangan duniawi itu dapat ku raih, bahkan aku akan rela memperbudak diri untuk menggapainya, karena alasanku pun jelas kok, "orang Islam harus kaya kan" lagian "kalau gak bgini kapan kita akan punya?". suatu hari aku membuka obrolan dengan sang hati.

"Wah kamu sepertinya sedang terobsesi sesuatu ya? tapi apakah kau tau bahwa harta itu akan menjadi fitnah bagimu?" bisik hatiku .. "tentu tau, aku tau membelanjakan hartaku kemana", jawabku mantap. "tapi bukannya kamu sudah cukup, kemana-mana kamu mudah, motormu itu masih kinclong dan bensin tidak pernah kosong, di dompetmu juga selalu terselip uang yang cukup untuk dapat kau makan dengan kenyang 3 x sehari bahkan lebih, kamu hidup di kota, kamu memiliki akses pada banyak pihak, kamu relatif dihormati, kamu memiliki istri yang baik dan berbakti padamu, kamu punya rumah dan isinya yang bagus". jawab sang hati yang mulai mengangkat suara lebih keras. "tapi aku tidak nyaman, aku bosan dengan motor yang sudah ku miliki 7 tahun lalu, sekarang sudah gk jaman motor seperti ini, orang lain sudah punya mobil, aku belum". terangku dengan suara yang mulai meninggi..

"tapi untuk kehidupanmu sekarang, apakah kamu merasa cukup?" hatiku melembut "yaa memang cukup", ikut melembut. "lalu kenapa kamu lebih memilih memperbanyak harta dari pada memperbanyak berbakti pada Allah? kamu kan tau bahwa harta itu batasannya sampai pada cukup, bukan banyak atau berlimpah, dan kita sepakat kamu sudah cukup. Ingat, kata 'banyak' dalam al-Quran itu khusus untuk dzikir pada Allah. bukankah berarti sebaiknya kamu memilih untuk banyak dzikir dari pada banyak harta?" beber sang hati dengan lembut.. "aku tau itu" jawabku sinis ..

"memangnya kamu akan hidup berapa lama?"
"itu rahasia Allah" ketusku
"artinya, kamu harus menyiapkan untuk mati yang akan datang tiba-tiba dari pd untuk dunia?" nasihat sang hati dengan lembut.

"tapi tidak salah kan jika aku kaya, lalu menjadi orang yang gemar shodakoh, menolong orang dengan hartaku, membantu masjid, membantu orang miskin, itu semua akan jadi bekal akhiratku kan?" aku mulai memaparkan visi dari kekayaanku..

sang hati hanya tersenyum, dan pelan-pelan dia menatapku dalam sampai-sampai aku ta sanggup menatapnya .. aku hanya tertunduk.. "jika memang itu tujuan hartamu, maka latih dari sekarang sebelum kamu diuji dengan kecukupan.. artinya, kalau dunia memanggil kamu dan kamu berlari menuju kepadanya, kamu harus naik motor jika Allah yang memanggilmu. Jika untuk dapat uang kamu segerakan, maka kamu harus siap setengah jam lbh dahulu sebelum adzan berkumandang memanggilmu, apakah kamu sudah seperti itu?'

aku hanya menggeleng..

"berarti kamu masih 'menomor duakan' Allah, jadi jangan pernah berharap kamu akan dinomor satukan oleh Allah .." lanjut hati sambil menepuk pundakku..

"ingat, rasa kekurangan itu tak ada ujungnya, cinta pada kehidupan dunia tak pernah kenyang, tapi itu semua 'api' yang sewaktu-waktu akan menghanguskanmu, karena itu bisikan nafsu lambang dari kebodohanmu". tegas hati..

"harusnya, hanya kepada Allah kamu selalu kurang. hatimu belingsatan karena rindu berat pada-Nya. kepada cinta Allah kamu harus selalu lapar, kalau sudah bgitu maka berapapun ongkos untuk mencapai ridho-Nya kamu akan banyar dengan sukarela".

"lalu aku dapat apa?" masih ngeyel..

"kamu akan dapat dunia dan akherat beserta isinya". tutup sang hati..

‪#‎terinspirasiemha‬ ‪#‎sebuahcatatan‬ ‪#‎emhaainunnajib‬ ‪#‎mindspirit‬ ‪#‎wasugi‬ ‪#‎jamaahjakal‬

Friday, October 17, 2014

Agama dan Iman sekedar hiasan.

Entah apa yang ada di benak ku sekarang, tertunduk dalam diam, bertekuk dalam kegalauan dan ketidakpastian harap, keengganan berjalan, kelabilan hati, kenestapaan tanpa henti, semua hanya bayangan kerakusan.

Kalau tuhan menciptakan manusia dengan kesempurnaan akal agar dapat menimbang dan rasional, agar mampu memecahkan misteri alam semesta sebagai jalan mengenal Tuhan. seandainya akal adalah kesempurnaan, mengapa tuhan ciptakan agama? mengutus utusan-Nya untuk menuntun. mengapa Tuhan perlu membimbing manusia dengan kitab suci? bukankah akan dapat menemukan dengan sendirinya pedoman hidup? seperti Undang-undang pada setiap tatanan sosial?

itu semua menunjukan bahwa memang akal tidak sempurna, kesempurnaan akal bertahap dan perlu stimulasi dari luar, sebagai stimulator untuk maju. dimulai dari coba-coba dan pembuktian, dimulai dari prasangka dan kira-kira, dimulai dari supernatural ke rasional, semua bertahap untuk maju. dan tuhan dengan penuh cinta membimbing manusia menuju kesempurnaan akal, untuk mengenal-Nya, bukan untuk menghianati cinta-Nya.

tetapi sayang, cinta-Nya pada manusia dibalas dengan keserakahan, menari diatas penderitaan orang lain, egois, dan sombong. seakan dapat dengan mudah melubangi tanah sampai tembus pada bagian lain, seakan dapat lebih tinggi dari gunung dan menembus langit. sungguh ironi, iman pada Tuhan kemudian hanya menjadi pemanis lidah, pelumas bibir, dan pembius lawan.

Kebohongan menjadi bagian dari hidup yang sangat disanjung, kebohongan seakan menjadi kebutuhan, mengutuk kebohongan orang lain dengan kebohongan, membunuh orang dengan menyebar luaskan informasi salah. Berbuat baik untuk meraup keuntungan materil lebih besar, sedih terasa. apa tujuan tuhan dari ini semua? mengapa membiarkan itu terjadi berkali-kali? apa karena manusia akan mempertanggung jawabkannya sehingga manusia diberi kebebasan untuk berbuat apapun tanpa diingatkan? atau apakah ini memang peringatan dari keserakahan manusia sebelum kita?

Lalu aku mulai bingung, apa itu agama?

Tuesday, July 15, 2014

Tolong hentikan provokasi kebencianmu

Pesta demokrasi pilpres tahun 2014 sgt menyita perhatian byk kalangan. Dr yg jago kampanye sampai relawan kampanye dadakan. Semua bahu mbahu mncari simpati unk capres yg ia dukung.. Bahkan  berani dan trlihat niat banget unk mnjelekan sejelek2nya pd lawan dan memuji stinggi surga calonnya.

Kalau baik.. Ya Allah baiknya lbh dr malaikat yg tidak pernah salah. Tp kl baca dr pendukung lawan, masyallah buruknya lbh bau dr kotoran. Mungkin iblis kalah buruk kl kt simpulkan dr omongan2 itu.

Tidak sedikit posting d facebook isinya hanya hujatan, cemoohan, kebanggaan dan cibiran. Hati kita mulai dipenuhi rasa benci.. Hati ini dirasuki setan perpecahan.. Merasa benar, dan merasa bahwa lawannya goblok.

Unik banget memang..

Sekarang pilpres dah kelar.. Lalu datang quick count berbeda juga diantara kedua pendukungnya. Saling hujat jg mrk.. Yg uniknya sampe skrg kt msh saling cemooh.. Masyallah.. Jd kl presidenya yg jadi dr kelompok A. Lo kira lo mampu bangun indonesia tnp dukungan dr pendukung kelompok B?

Bosaan dgn provokasi kebencian.. Bosaaan mlihat perdebatan dgn arogansi. Bosan melihat itu semua.

Indonesia itu milik bersama jgnlah hal ini jurang perbedaan kt diperbesar.  Cukuplah ibu pertiwi sbg ibu kt satu dan satu satunya...

Tuesday, June 03, 2014

Ibu Menyusui Indonesia makin sadar

Semakin gencarnya promosi menyusui yang dilakukan di Indonesia, diiringi mulai menjamurnya organisasi atau perkumpulan yang memiliki kesamaan minat untuk mendalami, mempromosikan dan berbagi tentang menyusui ternyata tidak serta merta meningkatkan cakupan informasi menyusui pada masyarakat.

Tuesday, May 27, 2014

Karena memang kita ini hamba Allah...

Hari ini Jogja relatif lebih lengang, mungkin karena hari kejepit nasional, atau mungkin karena cuaca agak panas jadi para pemotor memilih diam di rumah, atau karena liburan sesungguhnya baru akan jatuh kamis (29/5) jadi hari ini ngerjain tugas kantor/kuliah, agar jumat bisa mbolos. Haha..

Berjalan santai bersama Istri memang selalu menyenangkan, meskipun setiap keluar rumah kami tidak pernah memiliki tujuan pasti, yang penting kami berjalan keluar besama menikmati Jogja yang semakin hari semakin padat, dan sawah adalah destinasi paling menarik, aku selalu takjub melihat sawah, meski aku dilahirkan di pinggir sawah juga sih.. hahaha. Mungkin karena itulah kedekatakan pada sawah selalu menyenangkan.

Manusia memang diciptakan untuk merasakan ketenangan dengan apa yang dirasakan, tak penting apa itu? bahkan hanya dengan sesuatu yang remeh temeh.  Kesenangan itu ibarat bius yang membuat kita terbuai jauh melayang, rasanya tidak bisa terlukiskan oleh kata-kata, apalagi tulisan blog. Tetapi kadang itu memperbudak dan membuat kita lupa bahwa di samping sawah itu ada sungai yang mungkin lebih indah jika mau ku palingkan sedikit penglihatanku..

Yaa sawah.. mungkin aku memang terlalu ortodok untuk menjadikan sawah tempat favorit, jauh disana banyak juga yang diperbudak oleh sesuatu hal yang jauh lebih modern, seperti gadget. Android yang sudah menjadi software open source terfavorit di dunia menjadi dewa baru dan kita tidak segan untuk menghamba padanya. Dulu kita mengenal Nokia sebagai HP sejuta umat, dengan nada dering yang pasti lekat di telinga kita.

Setelah HP dengan sms itu lengser, digantikan oleh Blackberyy, tidak lama menjabat kudeta android pun datang, maka jabatan dewa gadget di gantikan oleh android. Tidak sulit untuk melihat hamba-hamba dan pengikut mereka, cukup kita main ke lampu merah, jika lampu merah menyala, maka kita akan melihat hamba-hamba android mulai merogoh sakunya, lalu membacanya. Tidak sedikit diantara mereka yang tersenyum ketika melihat gadgetnya. Ntah apa dia sadar atau tidak bahwa di samping sawah itu ada sungai lho.. nengoook dong. Hehe.

Tidak cukup saat lampu merah menyala, ketika lampu hijau giliran menyala sekalipun, penumpang motor yang tadi tersenyum tetap menggenggam HP dan melihatnya sambil menjalankan motor. Sungguh unik sekali hamba android ini.

Sungguh ironi memang, kita lebih mementingkan orang yang tidak terlihat daripada kiri kanan kita. Kita lupa bahwa pengguna jalan itu tidak sendirian, dan bahwa konsentrasi saat mengendarai kendaraan bermotor itu jauh lebih penting dari pada penghambaan pada android. Cerita tragis pemotor yang kecelakaan karena menggunakan gadget di jalan bukanlah hal baru, gadget bisa menjadi pencabut nyawa ketika kita menghamba dengan berlebih.

Andai keasyikan kita memainakan android itu kita implementasikan dalam penghambaan kepada Allah. Saat akan sholat, misalnya, kita tersenyum dan menunduk dengan bangga. Lalu ketika ada orang lain lewat kita menjadi acuh, tidak peduli, karena dalam diri kita hanya ada Allah, dimana kita asyik bercengkrama dengan-Nya, menyebut nama-Nya, memohon pada-Nya dan merasakan kehadiran-Nya, mungkin itu yang namanya khusyu’.

Karena sesungguhnya kita ini hamba Allah, bukan hamba android atau sawah..

Monday, May 26, 2014

ASI Eksklusif dan Lemahnya Visi BLSM

Mungkin anda pernah alami peristiwa ini. Saat mengendarai sepeda motor di Yogya, saya berhenti lantaran lampu lalu lintas berganti merah. Seketika saya dihampiri seorang wanita menggendong bayi, tangan kirinya menggenggam botol berisi susu. Saya menerka susu itu dibuat tidak sesuai takaran, karena warnanya yang relatif bening tapi putih. Kemudian saya sodorkan uang sambil bertanya, “Ibu, bayinya diberi susu botol ya?” Ibu itu hanya tersenyum sambil pindah ke pengendara motor lain.

Ibu itu hanya satu dari jutaan lainnya, karena 80 persen ibu-ibu negeri ini menganggap pemberian susu formula suatu keharusan. Masif dan memikatnya promosi susu formula lewat berbagai media beberapa dekade ini, sangat berhasil meyakinkan masyarakat bahwa susu formula dapat menggantikan Air Susu Ibu (ASI) sebagai kebutuhan nutrisi cair bayi sampai dua tahun.

Keluarga prasejahtera bahkan miskin sekalipun banyak meninggalkan ASI demi tercapainya anak idaman seperti divisualisasikan dalam iklan. Model bayi imut yang cerdas, ceria dan gemuk, juga iming-iming manfaat kesehatan fisik dan psikis, disajikan setiap waktu melalui televisi, radio, poster, dan baliho. Tagline “Life Ready” yang asing bagi kita ditayangkan dengan menarik. Seakan menanamkan pesan “minumlah susu ini maka anak anda akan siap menghadapi hidup”.

Media sudah melakukan apa yang disebut Paul Jhonson sebagai distorsi informasi (Jhonson, 1997:103), yaitu praktek penyimpangan dengan cara mengurangi hal yang penting atau menambahkan hal yang tidak penting bagi publik. Secara teknis hal ini sering dilakukan dengan modus pencampuran antara fakta dan realitas. Dalam konteks ini, media ikut menghadirkan kebutuhan palsu, seakan susu formula itu adalah kebutuhan, padahal tidak.

Bisnis susu formula memang sangat menguntungkan. Pada tahun 2008 saja keuntungannya US $ 11.5 milyar dan diproyeksikan akan meningkat sampai 37% pada 2013 ini hingga US $ 42,7 milyar, dan Indonesia menjadi salah satu penyumbang paling besar sebanyak US $ 1.1 milyar. Dengan budget yang unlimited untuk promosi mereka sanggup membuat cara pandang baru; bahwa ASI saja tidak cukup, bahwa menyusui tanpa tambahan susu formula itu kurang, bahwa ASI dan susu formula itu sama saja. Berbanding terbalik dengan promosi menyusui yang hanya disosialisasikan seadanya tanpa kekuatan finansial dan visual yang menarik.

Sepertinya ini yang dimaksud Paul Jhonson dengan ‘Tujuh Dosa yang Mematikan’ (seven deadly sins) yang dilakukan oleh media. Salah satunya dramatisasi fakta palsu. Praktek penyimpangan ini bertumpu pada kekuatan narasi dari narator. Pilihan kata hiperbolik menjadi teknik yang sering dipakai. Untuk menambah dramatis intonasi narator menjadi penting. Dramatisasi menjadi lebih berisi dan seakan adalah kebenaran saat dipadu dengan gambar animasi atau ilustrasi. Umumnya industri televisi berkelit hal itu dilakukan karena kekuatan media televisi terletak pada kekuatan gambar.

Imbas promosi mereka masif, tidak pandang bulu. Kaya, miskin, tua, muda, ibu hamil, ibu menyusui, di kota ataupun di desa, semua terjangkiti promosi mereka. Dampak buruknya ketika sebagian orang miskin tidak mampu menyajikan susu formula sesuai anjuran – seperti peminta-minta tadi – akan mengencerkan dan menyajikannya dengan botol yang kebersihannya tidak dapat dijamin.
BLSM (Bantuan Langsung Sementara Masyarakat)
Bantuan Langsung Sementara Masyarakat. foto: Tribunnews.com
Bantuan Langsung Sementara Masyarakat. foto: Tribunnews.com

Angka kemiskinan di Indonesia masih tinggi, pengentasan kemiskinan menjadi program utama pemerintah setiap periodenya, baik pemerintah pusat sampai daerah. Bahkan ketika harga BBM harus naik, pemerintah bersedia menggelontorkan dana kompensasi yang mencapai Rp 11,6 triliun, meski akhirnya dipotong menjadi Rp 9,32 triliun untuk empat bulan. Dengan proyeksi Rp 150 ribu per keluarga setiap bulan selama 4 bulan untuk 15,5 juta rumah tangga sasaran.

Bantuan itu sangat membantu bagi sebagian masyarakat, paling tidak untuk beberapa bulan, tetapi saya melihat bahwa Indonesia sedang dijajah informasi yang membuat rakyat dipaksa untuk miskin, atau mungkin kebijakan-kebijakan negara ini diproyeksikan agar rakyatnya miskin. Kebanyakan rakyat kita dipaksa membeli kebutuhan sekunder dan alternatif menjadi kebutuhan primer, termasuk membeli susu formula.

Pertemuan dengan peminta-minta itu menggelitik saya. Malam harinya saya bersama istri melakukan survei kecil harga susu formula di sebuah toserba, dengan target susu bayi dengan label 0-6 bulan berukuran dos 400 gram. Kami temukan harganya berkisar Rp 30.300 sampai Rp.93.900. Kebutuhan bayi 0-6 bulan kalau sesuai dengan takaran dalam pembuatannya adalah 55 dos susu bubuk 400 gram perbulan.

Angka kelahiran bayi di Indonesia mencapai 4.5 juta bayi, dengan angka kematian 37 per 1000 kelahiran hidup, artinya sekitar 4,35 juta bayi hidup dan membutuhkan menyusui. Andai mereka semua meminum susu formula dengan harga paling murah akan dibutuhkan uang Rp. 7,25 triliun, sedangkan bila menggunakan susu yang dengan packaging yang lebih branded Rp. 93.900 maka dibutuhkan Rp. 22,46 triliun. Kita dapat membandingkan dengan BLSM yang digelontorkan pemerintah, Rp. 9,32 triliun?

Pikiran saya kembali ke peminta-minta itu atau keluarga prasejahtera dan miskin. Apabila kebutuhan keluarga 55 dos susu formula dalam 6 bulan dikalikan harga susu terendah saja Rp. 30.300, artinya dibutuhkan Rp. 1.666.500. BLSM yang hanya Rp. 600 ribu (untuk 4 bulan) perkeluarga tidak akan dapat memenuhi kebutuhan susu formula selama 6 bulan, itu belum dihitung dengan kebutuhan primer lain.

Saya meyakini menyusui atau ASI adalah satu-satunya nutrisi cair mamalia apapun. Mendapat ASI adalah hak bayi, jika kita mendukung ibu untuk menyusui, menolong bayi untuk mendapat makanan satu-satunya yang tepat untuknya, maka berarti kita juga membantu keluarga secara keseluruhan, dan membantu bangsa Indonesia untuk mendapat informasi yang tepat dan merdeka dari penjajahan pemiskinan.

Sunday, May 25, 2014

Perubahan itu ada bukan karena presiden

Terlalu memikirkan pemilu presiden, sampai-sampai kita sedikit lupa, bahwa ada di luar sana, anak-anak negeri berjuang untuk supremasi Indonesia .. anehnya, televisi juga gk peduli unk menyiarkan secara langsung pertandingan bulu tangkis thomas uber.. dan akhirnya, mrk tersingkir di semi final sama malaysia.. padahal, di atas kertas tim kita lebih kuat. tim uber juga tersingkir oleh India. dan kita tetap lebih memilih memikirkan prabowo dan jokowi.

Semua media terang-terangan menyerang salah satu kandidat. dan kita pun ikut andil menyerang salah satunya. yaa inilah demokrasi, dimana kita berjuang demi "sesuap" janji. janji indah yang didengungkan, atau kekhawatiran berlebih yang dihembuskan oleh orang-orang yang merasa punya kridibilitas dengan label "pengamat politik" "ahli komunikasi politik".. meski kadang ingin ku teriaki di kupingnya, "woiiii kenapa bukan kaw aja yang jadi presiden?".

bukankah, kita menyelenggarakan pemilu sudah berkali-kali, setiap kali pemilu kita selalu digembar-gembor bahwa "masa depan Indonesia ditentukan oleh suara anda". meski itu tak kuncung berubah, bahkan tak segan MUI pun ikut anda dan mengatakan bahwa mencoblos adalah WAJIB. yaa apapun itu, tetapi kita akan tetap sabar dan menunggu "suapan" harapan itu, setiap kali pemilu harapan itu tumbuh menggebu bak oasis di padang sahara.

tapi, mengaca pada TIMNAS Sepakbola U-19 yang beberapa tahun ini mereka mulai membanggakan, aku lihat perubahan itu bukan karena presidennya. bukan karena partai atau mencoblos tidaknya kita. tetapi karena satu sosok orang Indra Sjafri yang mau merubah sistem dari lingkungan kecil dimana dia diberi amanah.

Sekarang kita masih tetap bergantung pada presiden? merasa bahwa prabowo atau jokowi merubah itu semua? jangan mimpiii.. berhentilah menghujat keadaan, berhentilah berharap tinggi.. waktunya menyalakan lilin-lilin kecil dimana kita bisa.


Semua itu di awali dari keluarga dan tetangga .. kuatkan keluargamu, lihat kiri kanan kita, masih ada yg g bisa makan? masih adakah anak yang menangis karena gk bisa beli sepatu? masih ada pencuri2 kecil demi bisa beli sebungkus nasi? tetangga adalah parameter keimanan pada Tuhan, itu jika kita beriman pada-Nya dan Nabi-Nya.

Sunday, September 23, 2012

Berhenti dan dengarkan musik

Ini sangatlah luar biasa. Mohon luangkan waktu Anda sejenak untuk membaca:

Seorang pria duduk di stasiun di Washington DC dan mulai bermain biola. Saat itu pagi Januari yang dingin. Dia memainkan 6 lagu Bach selama kurang lebih 45 menit. Di waktu tersebut, karena pada jam sibuk, di perkirakan ada sekitar 1,100 orang melewat stasiun tersebut, banyak diantara mereka dalam pe

rjalanan kerja.

Tiga menit berlalu, dan ada seorang pria tua meperhatikan bahwa ada seorang musisi bermain. Dia memperlambat kecepatannya, dan berhenti beberapa detik, dan kemudian dengan segera tergesa-gesa untuk menemui jadwalnya.

Semenit kemudian, pemain biola itu menerima tips 1 dollar pertamanya: seorang wanita melemparkan uang tersebut tanpa berhenti dan melanjutkan berjalan.

Beberapa menit kemudian, seseorang bersandar di dinding untuk mendengarkannya, tetapi pria tersebut melihat jamnya dan mulai berjalan lagi. Jelas bahwa dia terlambat untuk kerja.

Seseorang yang memperhatikan dengan sangat adalah seorang bocah berumur 3 tahun. Ibunya membawanya serta, terburu-buru tetapi anak tersebut berhenti untuk melihat sang pemain biola. Akhirnya, ibunya mendorong dengan kuat, dan anak tersebut kembali berjalan, sambil membalikkan kepalanya. Aksi ini terulang oleh beberapa anak lainnya. Setiap orang tua, tanpa terkecuali, memaksa mereka untuk lanjut berjalan.

Dalam 45 menit musisi itu bermain, hanya 6 orang yang berhenti dan berdiam diri untuk sesaat. Sekitar 20 orang memberikannya uang, tetapi lanjut berjalan dalam kecepatan normal mereka. Dia mengumpulkan $32. Ketika dia selesai bermain dan keheningan muncul, tidak ada seorang pun memperhatikannya. Tidak ada seorangpun yang bertepuk tangan atau ada penghargaan apapun.

Tidak ada seseorangpun yang mengetahuinya, bahwa sang pemain biola adalah Joshua Bell, salah seorang musisi paling bertalenta di dunia. Ia baru saja memainkan salah satu musik terumit yang pernah dituliskan, dalam sebuah biola seharga 3.5 juta dollar.

Dua hari sebelum permainannya di kereta api bawah tanah, Joshua Bell bermain dalam sebuah teater di Boston dengan tiket yang sold-out dengan harga rata-rata $100.

Ini adalah cerita nyata. Joshua Bell menyamar untuk bermain di stasiun dan acara tersebut diatur oleh Washington Post sebagai bagian dari eksperimen sosial tentang persepsi, rasa dan prioritas dari orang-orang. Bahan percobaannya adalah: dalam sebuah lingkungan yang umum pada waktu yang tidak tepat: Apakah kita menghargai sebuah keindahan? Apakah kita akan berhenti untuk menghargainya? Apakah kita akan mengenal talenta tersebut dalam konteks yang tidak terduga?

Salah satu kesimpulan yang mungkin bisa diambil dari percobaan ini adalah:

Jikalau kita tidaka memiliki waktu untuk berhenti dan mendengarkan salah seorang musisi terbaik di dunia memainkan musik terbaik yang pernah ditulis, berapa banyak hal lainnya yang kita telah kehilangan?

Berhentilah sejenak dan dengarkan.
Sering kali kita bergerak terlalu cepat dan terburu-buru sehingga kita kehilangan begitu banyak hal berharga di dalam hidup kita.

Jikalau Anda suka kejadian nyata ini dan menginspirasi Anda, share kepada teman-teman Anda agar menjadi inspirasi dan pengingat bagi mereka juga.
video youtube


Copas from: Toni Raharjo .. terimakasih atas tulisan inspiratifnya

Thursday, September 06, 2012

Mitos 350 Tahun Indonesia dijajah

Tahun 1985. Saya duduk di kelas 3 Sekolah Dasar, ketika mata pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) pertama kali diluncurkan oleh Pemerintah Orde Baru. Sejak itu, saya jadi sering mendengar ungkapan dari para guru bahwa penjajahan di Indonesia berlangsung selama 350 tahun. Hah 350 tahun? Pikir saya. Alangkah lamanya.

Namun tak ada yang protes dengan angka tersebut. Semua orang (termasuk saya) seolah sudah sepakat bahwa Indonesia memang dijajah dalam kurun waktu sebanyak itu. Hingga pada 1991, saat duduk di bangku kelas 1 SMA, saya membaca perdebatan antara Soe Hok Gie dengan salah seorang dosen sejarahnya.

Soe sangat tidak terima Indonesia dijajah oleh Belanda selama 350 tahun. Mengutip pendapat Profesor G.J. Resink (sejarawan UI yang berkebangsaan Belanda), aktivis dan mahasiswa sejarah itu menyebut angka tersebut hanya “dramatisasi politik” Soekarno untuk membakar rakyat Indonesia punya jiwa.

“Dalam kenyataannya, Belanda tak pernah bisa menguasai 100% wilayah Nusantara sampai akhir kekuasaannya,”kata Soe sambil menyebut beberapa pemberontakan rakyat Aceh yang masih berlangsung hingga 1942.

Rahmat Safari, salah seorang teman saya yang sangat menggilai sejarah, bahkan berani menyebut penjajahan Belanda atas Indonesia hanya 4 tahun (1945-1949). Apa sebab? “Sebelum 1945, secara de facto dan de jure, memang Republik Indonesia sudah ada?”katanya malah balik bertanya kepada saya.


Logika historis Rahmat saya pikir-pikir memang ada benarnya juga. Nama Indonesia sendiri baru disebut-sebut di kalangan ilmuwan ketika pada 1850, seorang etnolog berkebangsaan Inggris bernama James Richardson Logan menulis Ethnology of the India Archipelago (dimuat dalam The Journal of Indian Archipelago and East Asian Edisi IV Adolf Bastian. Dalam waktu yang hampir bersamaan, Adolf Bastian, seorang etnolog Jerman (1826-1905) lantas menulis sebuah buku berjudul Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel (Indonesia atau Pulau-pulau di Kepulauan Melayu).

Sebelum 1945, wilayah Indonesia memang dikenal sebagai Hindia Belanda.Artinya India punya Belanda.Itu untuk membedakan dengan Hindia Barat atau India yang punya Inggris. Dua nama itu murni hasil kesepakatan antara bangsa penjajah semata.

Dan jauh sebelum ada nama Hindia Belanda,kawasan kita lebih dikenal sebagai Nusantara (artinya diantara pulau-pulau).Isinya terdiri dari berbagai bangsa dan kerajaan seperti Bali, Gowa, Pajajaran, Melayu, Andalas, Pagaruyung, Mataram, Banten dan lain sebagainya.

Kembali ke soal angka 350 itu. Tak ada orang yang tahu dari mana angka itu muncul. Kalaupun itu dihitung sejak kedatangan pertama kali armada Belanda pimpinan Cornelis de Houtman pada 22 Juli 1596 atau Jacob van Neck, van Heemskerck, dan van Waerwijck pada 1 Mei 1598 ,saya pikir itu tidak tepat juga. Bukankah saat pertama kali mereka datang ke Pelabuhan Banten tujuannya hanya berbisnis semata,bukan melakukan penjajahan? Alih-alih menjajah, mereka bahkan terikat kesepakatan dengan Kerajaan Banten dan justru mempersembahkan upeti kepada Sultan Banten.

Harus diingat pula, setelah berdirinya Maskapai Perdagangan Hindia Timur (VOC) pada 1602 tak serta merta urusan “penguasaan” ekonomi dan politik Belanda atas kawasan Nusantara berlangsung mulus. Berbagai perlawanan terjadi ketika Belanda berniat menganeksasi wilayah kerajaan-kerajaan yang ada saat itu.

Muncullah berbagai perang yang terjadi di berbagai di kawasan Nusantara. Di Sumatera Barat meletus Perang Padri (1821-1837), di Jawa Tengah dan Yogyakarta terjadi Perang Diponegoro (1825-1830), Perang Aceh I (1873-1907), Perang di Jambi (1833-1907), Perang di Lampung (1834-1856), Perang di Lombok (1843-1894), Perang Puputan di Bali (1846-1908), Perang di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (1852-1908), Perlawanan di Sumatra Utara (1872-1904), Perang di Tanah Batak (1878-1907), dan Perang Aceh II (1912-1942).

Praktis hingga 1942, Belanda tidak bisa sepenuhnya menguasai wilayah Nusantara. Di beberapa kawasan seperti Banten, Aceh dan sebagian wilayah Sumatera lainnya, bahkan secara de facto Belanda hanya menguasai kawasan kota semata. Sedangkan kawasan pelosok dan pedalaman, tetap dikendalikan oleh para pejuang lokal.

Bahkan menurut sejarawan dari Universitas Padjajaran, Nina Lubis, hingga akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, beberapa kerajaan di Bali, dan beberapa kerajaan di Nusa Tenggara Timur, masih mengadakan perjanjian sebagai negara bebas (secara hukum internasional) dengan Belanda. Jadi masihkan kita menyebut dengan “takjub” bahwa kita telah dijajah Belanda selama 350 tahun? (hendijo).

post by webane.com

Wednesday, September 05, 2012

Foto Eksekusi Mati Kartosoewirjo

Jakarta Misteri teka-teki tewasnya Pemimpin DI/TII Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo yang memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) terungkap. Selama ini, hampir 50 tahun informasi seputar Kartosoewirjo tertutup. Bagaimana dia dieksekusi dan di mana dia dikuburkan selalu menjadi pertanyaan.

Informasi di berbagai literatur menyebutkan bahwa Kartosoewirjo ditangkap Batalion Kujang II Siliwangi pada 4 Juni 1962 di kawasan Gunung Sangkar dan Gunung Geber.

Tapi kini, dalam 81 foto yang termuat dalam buku yang dirilis Fadli Zon, berjudul 'Hari Terakhir Kartosoewirjo' terungkap detik-detik menjelang eksekusi, yang disebut TNI sebagai pemberontak.

Buku itu akan diluncurkan Fadli Zon pagi ini, Rabu (5/9/2012) pukul 10.00 WIB di Galeri Cipta, TIM, Cikini, Jakpus. Dalam peluncuran buku itu akan hadir sejumlah tokoh dan sejarawan, serta keluarga Kartosoewirjo.

Dalam buku setebal 90 halaman dengan sampul hijau itu Fadli menuturkan bagaimana dia mendapatkan foto-foto eksekusi mati Kartosoewirjo yang bercita-cita mendirikan negara Islam di Indonesia. Dalam buku itu terpampang proses eksekusi Kartosoewirjo.

"Buku ini ditulis dengan tujuan utama mengangkat sebuah fakta sejarah penting dalam perjalanan hidup Sekarmadji Maridjan Kartosowirjo. Inilah detik-detik akhir kehidupan Kartosoewirjo yang dieksekusi mati pada 12 September 1962," jelas Fadli dalam bukunya.

Berbagai macam buku soal Kartosoewirjo, yang pernah dianggap Imam Mahdi dan satria piningit oleh pengikutnya begitu banyak. Tapi tidak seperti buku yang diluncurkan Fadli, yang jelas berbicara lewat gambar.

"Tepatnya 7 Agustus 2010 saya mendapatkan koleksi foto-foto tersebut. Setelah saya selesai acara Java Auction (lelang benda-benda filateli dan numismatik) di Hotel Redtop, ada seorang kolektor yang menawarkan koleksi foto Kartosoewirjo. Koleksi foto ini adalah artefak sejarah yang penting," tulis Fadli.

Tapi Fadli mengaku tidak tahu asal muasal foto ini. Dia hanya menyebut foto proses eksekusi Kartosoewirjo ini belum pernah dipublikasikan dan satu-satunya di dunia.

Kartosoewirjo merupakan pemimpin besar NII. Dia memproklamirkan berdirinya NII, pada akhir 1950-an. Hingga kemudian pada 1962, melalui operasi pagar betis TNI, Kartosoewirjo yang melakukan perlawanan di kawasan Garut dibekuk. (COPAS dari DETIK.COM)

Berikut contoh-contoh fotonya yg diambil dari hasil browsing...













Friday, September 16, 2011

The Power of Niat

Pagi ini masuk agak telat, tapi beruntung pas ceklok absen ternyata tidak berwarna merah, jadi belum telat selama cetakannya masih berwarna hitam, hehe. masuk ruangan dan hal yg pertama aku buka adalah email yahoo, dan facebook. seperti biasa banyak status baru yg biasa saja. tetapi ada satu status yg menarik yaitu statusnya Suhardiansyah, dia temenku waktu di Gontor dan juga di Kairo dulu. dari dulu memang anak ini pinter, nyeleneh tapi rasional, santai tapi dalem kata-katanya, gw suka gaya lo, he.. Status dia adalah:
suatu ketika syeikh Hamdun an-NIsaburi ditanya:"Mengapa omongan ulama terdahulu lebih bermanfaat dari omongan kita?" jawab beliau: "Karena mereka bicara untuk kemuliaan islam, keselamatan jiwa dan ridho Allah. sedangkan kita bicara untuk kemuliaan jiwa, mencari harta dunia dan agar orang lain menyakini kita benar". (thabaqat S) Allahummah dina bihudahum ilaika ya Rabb

Ini status sangat dalam, tapi kalau boleh menggaris bawahinya bahwa ternyata niat mampu mengantarkan manusia mencapai targetnya, mengantarkan power atas apa yg dibicarakannya, menjadikan nada bicaranya seperti memiliki ruh yang mampu mensugesti orang lain, bukan karena retorika dan paparan ilmiah yang membuatnya berbusa-busa untuk menyimpulkan satu dua kata yang simple. Niat secara otomatis juga mensugesti dirinya sendiri, menjadikan fisik, akal, dan jiwanya sinergi. yang timbul hanya semangat, bekerja keras, dan tawakal. Meski memang pertanyaannya "niat seperti apa?" kita tidak pernah tau apa yg ada dalam diri kita, tetapi mari mulai menanyakan pada diri kita sendiri tentang apa target hidup, atau kita malah takut untuk jujur pada diri kita sendiri tentang tujuan kita. Ketika tujuan tidak ada, maka niatpun tidaklah ada, dan ketika itu kita sudah kehilangan sebagian dari ruh hidup kita. naudzu billah ..


 

Friday, June 17, 2011

kangen juga menulis di blog

2004 awal dimana mengenal blog ini .. serasa lamo sekali tak lagi aktif menulis di blog, yaa entah apa yang membuat ku begitu malas menulis disini .. yang pasti setiap saat update blogku selalu ku terima, meski dalam sebulan hanya 1 atau dua orang visitors .. hahaaha.. memang targetku membuat blog bukan untuk mendatangkan visitor kemari, hanya sekedar sebagai bagian dari curahan hati aje yang kadang membuatku puas saat menulis disini ..

yaa setelah pulang ke Indo, nyaris aku gk pernah menulis di blog, selama ini aku hanya menulis di www.selasi.net, sebagai media untuk mencurahkan segala kreatifitasku untuk menulis yg lebih bermutu dan lebih banyak dibaca orang .. senang bisa melihat visitor nya banyak, senang bisa berbagi, meski memang tidak seorang pun pengunjung situs itu mengetahui siapa dibalik layarnya... hahaha..

tetapi Allah gk buta, dan dia tahu betul.. so ... rasa dahagaku untuk menulis tersalurkan lewat situs tersebut, meski memang orang hanya mengenal selasi not wasugi .. any how, aku bangga saat tulisan-tulisan iseng yang mungkin bagi sebagian orang dianggap sepele banyak dibaca orang ....

sorry pak blog, apabila aku melupakanmu .. tetapi mulai sekarang insya allah lah akan lebih sering menulis dari biasanya .. hehehe

Thursday, September 23, 2010

Kiroro - Miraee with English Translation

The song name is Mirai e (Towards The Future)

Hora ashimoto wo mite goran
Kore ga anata no ayumu michi
Hora mae wo mite goran
Are ga anata no mirai

Haha ga kureta takusan no yasashisa
Ai wo idaite ayumeto kurikaeshita
Ano toki wa mada osanakute imi nado shiranai
Sonna watashi no te wo nigiri
Isshoni ayundekita

Yume wa itsumo sora takaku aru kara
Todokanakute kowai ne dakedo oitsuzukeru no
Jibun no story dakara koso akirametakunai
Fuan ni naruto te wo nigiri
Isshoni ayundekita

Sono yasashisa wo toki ni wa iyagari
Hanareta haha e sunao ni narezu

Hora ashimoto wo mite goran
Kore ga anata no ayumu michi
Hora mae wo mite goran
Are ga anata no mirai

Sono yasashisa wo toki ni wa iyagari
Hanareta haha e sunao ni narezu

Hora ashimoto wo mite goran
Kore ga anata no ayumu michi
Hora mae wo mite goran
Are ga anata no mirai

Hora ashimoto wo mite goran
Kore ga anata no ayumu michi
Hora mae wo mite goran
Are ga anata no mirai
Mirai e mukatte
Yukkuri to aruite yukou



English Translation

Look! Look at your feet
This is the road you walk
Look! Look ahead of you
That is your future

My mother gave me so much kindness
“Embrace love and walk,” she said over and over
At that time I was still immature
I didn’t understand her meaning
She held my hand
And walked with me

Our dreams are always high in the sky
It’s scary that they might not come true
But we still continue to chase them
Because it’s our story
We don’t want to give up
When I was unsure she held my hand
And walked with me

There were times when I hated that kindness
When separated from my mother I couldn’t be obedient

Look! Look at your feet
This is the road you walk
Look! Look ahead of you
That is your future

There were times when I hated that kindness
When separated from my mother I couldn’t be obedient

Look! Look at your feet
This is the road you walk
Look! Look ahead of you
That is your future

Look! Look at your feet
This is the road you walk
Look! Look ahead of you
That is your future
Turn towards the future
Let’s walk slowly

Saturday, August 14, 2010

MERDEKA : Adakah yang peduli akan hak kami?

Mendapat kehidupan adalah anugerah, mempertahankan dan menjaganya adalah kewajiban, semua umat manusia dengan berbagai ideology sepakat bahwa manusia mempunyai hak yang harus dijaga dan dilindungi. Tidak ada keraguan diantara kita bahwa merampas hak adalah pelanggaran kemanusian baik secara hukum positif maupun etika social dan agama.

Seperti halnya hidup, anak adalah anugerah yang sangat sacral, posisinya adalah amanah Tuhan. Maka kewajiban kita untuk mengiliminasi pengukungan haknya dari cara berfikir, pengambilan kebijakan, etika social, tata pranata social, bahkan etika promosi dagang.

Lembaga perlindungan anak di Indonesia menjamur bak cawan di musim hujan, semua berfilosofi bahwa hak anak harus dilindungi dan perjuangkan, anak Indonesia harus mendapat pendidikan yang layak, kehidupan yang baik, perlakuan social yang tepat, terhindar dari kekerasan fisik dan psikis.Media informasipun tak ketinggalan mengangkat topic hak anak sebagai headline saat terjadi pelanggaran hak anak, bahkan kasus guru yang menempeleng murid yang badung jauh lebih penting diberitakan dari pada bagaimana seorang guru berjuang untuk mendidik muridnya.

Ya, kekerasan pada anak adalah pelanggaran hukum. Ya, pemerkosaan anak adalah pelanggaran. Saat kita berkonsentrasi untuk menjaga kehidupan anak, pertanyaan saya adalah, kehidupan seperti apa yang kita berikan pada anak?

Pastinya kehidupan yang ingin kita berikan adalah kehidupan yang baik, hidup yang berkualitas, baik secara fisik ataupun mental. Kualitas hidup anak ditentukan dari masa anak itu dikandung dan dilahirkan, pendidikan dini, kasih sayang dan pemberian makanan yang tepat adalah bagian dari faktor yang harus dipenuhi untuk menjamin kehidupan anak yang baik.

Kita tahu rokok itu tidak baik untuk kehidupan dan mental anak, maka saat anak balita merokok semua orang tersedot perhatiannya. Bahkan Kak Seto langsung terbang dan bertemu langsung dengan anak tersebut, dan memfasilitasi program rehabilitasinya.

Selain rokok kita juga tahu bahwa pemberian susu formula itu meningkatkan resiko penyakit akut seperti penyakit usus besar, infeksi telinga, beresiko tercemar sakazakii, kanker (leukemia, getah bening, neuroblastoma), kencing manis, obesitas, asma dan alergi.

Artinya pemberian susu formula sama bahayanya dengan rokok, tetapi apakah kita pernah melihat reaksi pemerintah, LSM anak, tenaga kesehatan dan masyarakat untuk bersama-sama menghentikan praktik pemberian susu formula yang merugikan? Pernahkah kita melihat satu figur penting bangsa ini berdiri tegak dan berkata “ayoo dukung ibu untuk menyusui?”

Lantas kehidupan model apa yang kita perjuangkan untuk anak Indonesia? Kualitas hidup apa yang kita ingin berikan untuk mereka?

Saat kita peduli pada hak anak, saat kita peduli pada kesehatan anak maka kita peduli pada praktik-praktik yang beresiko menyebabkan anak Indonesia sakit. Saat kita konsen dengan pemenuhan makanan anak, maka sebaiknya kita konsen terhadap pemenuhan makanan anak yang tepat. Mendukung ibu untuk memberikan ASI adalah bagian dari pemenuhan hak anak untuk hidup, kesehatan, makan, peran dalam pembangunan, berkreasi dan mendapat pendidikan.

Perampasan akan hak anak mendapat makanan yang tepat, adalah perampasan hak anak untuk hidup kelak dengan kehidupan yang berkualitas. Menyusui adalah langkah awal menciptakan generasi super, generasi dengan mentalitas prima, generasi yang siap bersaing dalam kehidupan global.

Kegelisahan anak bangsa yang tidak mendapat ASI.

Wawan Sugianto (Wasugi)

Tuesday, January 06, 2009

Kapan Pertolongan Allah itu datang?

Seminggu sudah saya melihat berita dimanapun, baik dari media cetak atau elektronik mempublikasikan serangan Israel ke Palestina, sepertinya kuping saya mulai bosan dengan berita itu, dari puluhan tahun lalu, peperangan itu tidak pernah usai, nyawa seperti kacang goreng disana, bisa kapan saja mati terkena pluru atau reruntuhan gedung, ironis..

Doa pun tidak henti dipanjatkan, sms tentang permohonan membaca ayat-ayat penting berseliweran masuk ke handphone saya, seperti tidak pernah ada henti umat Islam Indonesia mendukung umat Islam yang ada di Palestina. tetapi agresipun tetap berlangsung dan Palestina tetap kalah dan makin hancur. Saya makin berpikir, seperti 1.430 tahun lalu tertulis dalam Quran "mataa nashrullah" alias "kapan pertolongan Allah akan datang?". Sedih sekali, dalam duduk selalu saya berfikir dan beguman "Allah, kapan kau tunjukan kebesaranMu pada kami, rahasia apa yang mau Kau tunjukan pada kami, kenapa selalu Kau biarkan kami menangis dalam kehancuran yang tak berujung?".

Dalam kegelisahan ini saya coba membuka al-Quran, saya baca ayat apapun yang terbuka, lalu tidak sengaja saya dapatkan ayat "apakah akan Ku biarkan kamu berkata kalau kamu telah beriman tanpa kami uji". yaa saya tahu, itu ujian memang itu ujian, sampai kapan kami lulus dari ujianMu Allah? ehmmm... mungkinkah sampai semua habis, dan tersisalah orang-orang yang istiqomah dalam prinsip dan jalan-Mu, atau sebaliknya? sampai semua orang yang loyal pada-Mu habis dan tersisalah iblis-iblis di dunia dan saat itulah kau hancurkan dunia ini?.

aaahh.. pusing... tak tahan otak saya memikirkan itu, saya coba berjalan ke taman RW yang memang tidak ada indah-indahnya, yang ada hanya pohon-pohon dan deretan mobil di parkir, tapi biarlah yang penting dapat melihat alam lain. aku melihat tukang parkir, satpam lagi pada ngrokok di satu kedai rokok kecil di pinggir jalan. aku perhatikan mereka, apakah mereka akan tetap jadi satpam seumur hidup? ku lihat tukang parkir sudah cukup tua, mungkinkah dia akan tetap disana sampai mati? duduk dipinggir jalan dengan kursi kayu yang hampir roboh, yang hanya muat 2 pantat untuk duduk disana, aku berjalan melewatinya, dia tersenyum padaku aku pun coba lempar senyum "misi pak". "iya pak, mau keluar ya?" jawabnya.

Dari sana kok aku seperti merasakan getaran, perubahan itu ada karna kau mau berubah. yaa mau berubah, mau untuk berubah. palestina bukan tidak mau berubah, tapi umat Islam dunia tidak mau merubahnya. yaa tidak akan berubah karna umat islam tidak mau berubah. aku senyum-senyum mengingat itu.

bayangkan, saudi arabia semua orang tau dengan siapa mereka dekat? bukankah mereka itu budak amerika? ingat penyerangan amerika ke Irak dan afganistan? dimana tentara amerika itu "parkirkan" pesawatnya? bukankah di saudi? pernahkah terdengar sedikit saja suara lantang dari raja saudi tentang penyerangan israel ke Palestin?jarang sekali, kenapa? karena mereka tidak peduli... (semoga saya salah, amin ya rob) bayangkan, saat khodimul haromain saja begitu bagaimana dengan negara lain?

lihat Kuwait, kurdi, mesir, emirat dan lain sebagainya, apa yang mereka lakukan untuk palestin. bahkan emirat arab yang dulunya persatuan dari negara-negara arab lebih memilih pecah. lihatlah bendera-bendera merah putih hitam, itu semua tadinya satu negara dan mereka pecah. yaa pecah, demi kekuasaan...

saya ajak berfikir agak jauh, saat Nabi Muhammad wafat, sudah munculah dua golongan (memang saat itu tidak terlalu terlihat tapi benih-benihnya mulai muncul). abu bakar dan kawan-kawannya langsung berunding untuk mengadakan pemilihan pemimpin umat, sedangkan Ali dan ahlil baitnya sibuk mengkapani dan mengubur sayidil karim Muhammad SAW. itulah penyebab awal munculnya syiah, baru muncul kemudian saat usman terbunuh, demi kekuasaan utsman pun meregang nyawa, apalagi saat Ali memimpin dan juga terbunuh, makin pecah belahlah umat islam. setelah itu lebih parah lagi bergeserlah generasi khilafiah (kekholifahan yang dipilih secara demokrasi) menjadi kerajaan (mulukah) yang pemimpinnya turun temurun ... ahirnya dinasti penguasa Islam pun mulai dikotak-kotak. saling menjatuhkan, dari dinasti ke dinasti... sedih...

ehmmm.. padahal Rosulullah selalu mengingatkan, bahkan di nafas terahirnya, umatku, umatku, umatku... sungguh kecintaan yang abadi darinya. kenapa umatnya membalasnya dengan berpecah belah.

Jadi, kunci perdamaiannya adalah, bersatunya seluruh umat islam. yaa hanya itu, sebelum bersatu, tidak akan pernah datang perdamaian di Palestina, sampai kiamat tiba. tidak perlu mendirikan satu negara islam, tetapi yang penting mempunyai satu kesatuan suara, yaitu ISLAM.. yaa ISLAM... bukankah tuhan selalu ingatkan, "aku tidak akan pernah merubah satu kaum, sebelum dia sendiri mau berubah". mau berubah, mau berubah, mau berubah. kita selalu berdoa setiap setelah tarawih di bulan suci ramadan yaitu doa kamilin, "Allah, sempurnakan iman kami, dan terhadap kewajiban kami tunaikan ....... dan dari hal duniawi kami menahannya, dan demi akhirat kami "mengejarnya", dan atas nikmat-Mu kami bersyukur, dan atas bala (kehancuran) kami berlindung padaMu, di bawah bendera Muhammad SAW".

Hanya satu bendera berkibar diatas dan dibawahnya silahkan kibarkan bendera lain, karena Islam di atas dan untuk semua golongan.

Saya duduk dan berlindung kepada Allah, dari godaan syetan yang terkutuk.